Seri ke 2 Adab Buang Hajat

Dibaca 0 kali


Pendahuluan

Buang hajat adalah proses pembuangan sisa makanan yang berbahaya untuk kesehatan tubuh, melalui air seni atau feses. Ini adalah merupakan salah satu nikmat Alloh jalla wa ‘alaa dalam rangka menjaga kesehatan tubuh kita dari berbagai penyakit yang ditimbulkannya. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur atas nikmat ini, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rosululloh apabila keluar dari WC beliau berkata :


الحمد لله الذي أذاقني لذته، وأبقى فيّ قوته، ودفع عني أذاه (رواه الطبراني)

Artinya : Segala Puji bagi Alloh yang telah memberiku rasa nikmatnya makanan dan menyisakkan kekuatan untukku dan membuang dariku penyakitnya (HR At Thobroni)

Adapun membaca istighfar saat keluar WC adalah sebuah ungkapan pengakuan diri atas keterbatasannya dalam mensyukuri nikmat berupa makanan yang telah diberikan , serta dimudahkannya keluarnya kotoran dari tubuh dengan demikian tubuh tetap sehat.

Bagi seorang muslim segala sesuatu yang terjadi selalu menyisakan banyak hikmah dan pembelajaran agar kita semakin taat dan merasa malu kepada Alloh serta mencintai dan mensyukuri. Aisyah r.a menceritakan dari ayahnya Abu Bakar As Shidiq beliau berkata :

استحيوا من الله فإني لأدخل فأغطي رأسي استحياء من ربي عز وجل

“Malulah kepada Alloh, maka sesungguhnya tidaklah aku masuk WC kecuali aku tutupi kepalaku karena malu kepada Alloh Jalla wa ‘alaa...

Dengan demikian buang hajatnya seorang muslim dilakukan dengan dasar ilmu, dan meyakini ini bagian dari anugerah dan rahmat-Nya.

Adapun adab (tata cara) buang hajat sudah dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab-kitab fiqih, yang secara garis besar terbagi menjadi dua ketentuan yaitu : Buang hajat yang dilakukan didalam ruangan (WC) dan buang hajat yang dilakukan di luar ruangan (shokhro). Dan pada kesempatan ini pembahasan akan dipersempit pada buang hajat yang dilakukakn di dalam ruangan saja (WC).

Berikut ini tata cara islami dalam buang hajat :

1. Meminta izin dengan memberi isyarat (ketuk pintu) sebelum masuk WC, untuk memastikan bahwa WC tidak sedang digunakan, terlebih jika berada di WC umum

2. Mendahulukan kaki kiri saat masuk dan kaki kanan saat keluar seraya berdoa sebagaimana yang Rosululloh contohkan.

عن أنس قال: كان رسول الله إذا دخل الخلاء قال: اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث) متفق عليه 

Dari Anas r.a berkata : adalah Rosululloh SAW apabila masuk WC membaca : “Ya Alloh aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan”. (Muttafaqun ‘alaih)

3. Dan doa saat keluar WC

عن عائشة ا قالت: كان رسول الله إذا خرج من الغائط قال: غفرانك) رواه الخمسة

Dari Aisyah berkata, bahwa Rosululloh apabila keluar dari buang hajat membaca : Ya Alloh aku mohon ampunan-Mu” (HR Al khomsah)

Dalam riwayat lain Rosululloh membaca :

الحمد لله الذي أذهب عني الأذى وعافاني

Artinya : “Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan penyakit dariku dan menyehatkanku”

4. Menyingsingkan lengan baju maupun celana sebelum masuk WC, hal ini untuk menghindari cipratan najis.

5. Tidak menghadap qiblat maupun membelakanginya, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas ka’bah.

Dari Abu Ayyub al anshoriy dari Nabi SAW bersabda : apabila kalian buang hajat janganlah menghadap qiblat dan tidak pula membelakanginya”. (Muttafaqun ‘alaih)

6. Lepaskanlah segala sesuatu yang terdapat tulisan Alloh maupun ayat Al Qur’an

7. Pastikanlah pintu WC terkunci dan jangan membiarkannya terbuka, dan jika ada yang hendak masuk berikanlah isyarat dari dalam dengan cara mengetuk pintu dan sebagainnya, agar menunggu.

8. Tidak melepas pakain sebelum betul betul masuk WC dan menutup pintunya. Dari Ibnu Umar berkata :

كان رسول الله إذا أراد حاجة لا يرفع ثوبه حتى يدنو من الأرض.) رواه أبو داود

Adalah Rosululloh ketika hendak buang hajat beliau tidak menyingkap pakaiannya kecuali sudah dekat ke tanah (tempat buang hajat) (HR Abu Dawud).

9. Ghoddul bashor (menjaga pandangan) dari melihat aurat saat buang hajat, meskipun tidak ada orang yang tau, tetapi masih ada Alloh yang berhak untuk kita malu kepad-Nya

10. Hindari berbicara saat buang hajat, termasuk mengucapkan salam maupun menjawabnya serta berdzikir

عن ابن عمر ما قال: مرّ رجل بالنبي وهو يبوّل فسلم عليه فلم يرد عليه) رواه مسلم

Dari Ibnu Umar berkata : “Telah lewat seseorang dihadapan Rosululloh yang sedang kencing, lalu mengucapkan salam, maka Beliaupun tidak menjawabnya”. (HR Muslim)

11. Menghindari percikan air kencing, perlu diperhatikan jika ada pernyataan bahwa Rosululloh kencing sambil berdiri maka jangan mempercayainya,

عن عائشة ا قالت: من حدّثكم أن رسول الله بال قائما فلا تصدّقوه) رواه الترمذي

Dari ‘Aisyah r.a berkata : Jika ada seseorang yang bercerita kepada kalian bahwa Rosululloh kencing sambil berdiri maka jangan percaya” (HR At Tirmidzi)

adapun jika melakukannya itu semata-mata karena ada rukhsoh, baik karena sakit maupun udzur syar’i

12. Mencuci tangan sebelum dan sesudah istinja

13. Istinja (cebok) menggunakan tangan kiri

عن أبي قتادة قال: قال رسول الله:" لا يمسّنّ أحدكم ذكره بيمينه وهو يبول، ولا يتمسّح من الخلاء بيمينه) متفق عليه

Dari Abu Qotadah berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda : Janganlah kalian menyentuh kemaluannya menggunakan tangan kanan saat kencing dan tidak mengusap-usapnya dengan tangan kanan”. (Muttafaqun ‘alaih)

14. Pastikan semua najis telah bersih, sehingga sempurnalah hukum sucinya.

وعن أبي هريرة قال: قال رسول الله: استنزهوا من البول فإن عامة عذاب القبر منه) رواه الدارقطني

Dari Abu hurairah berkata bahwa Rosululloh bersabda : “Bersihkanlah air kencing itu karena sebagian besar penyebab siksa kubur adalah dari air kencing (yang tidak dibersihkan). (HR Ad Daaru Quthni)

15. Bersihkan WC selesai buang hajat sampai tidak tersisa bekas dan baunya.

16. Segeralah cuci kedua tangan menggunakan sabun.

About Me.


EmoticonEmoticon